Kebijakan kenaikan gaji pokok membawa implikasi signifikan terhadap lanskap bisnis dan pasar tenaga kerja. Direktur Layanan Alih Daya dan Penyewaan Tenaga Kerja Manpower Vietnam, Dang Ngoc Thu Thao, mengungkapkan bahwa sektor usaha dengan proporsi karyawan bergaji tinggi menjadi pihak yang paling terdampak, terutama karena kenaikan tersebut bersinggungan langsung dengan ambang batas iuran jaminan sosial.
Dalam menghadapi kenaikan beban operasional, bisnis kini dihadapkan pada tiga skenario utama. Pertama, perusahaan cenderung beralih ke model kerja fleksibel seperti alih daya (outsourcing) atau perekrutan berbasis proyek. Strategi akuisisi talenta juga mulai bergeser, di mana perusahaan kini melirik wilayah dengan biaya tenaga kerja lebih kompetitif serta mengadopsi sistem kerja jarak jauh untuk menekan biaya tetap.
Kedua, peningkatan biaya personel mendorong percepatan transformasi digital. Alih-alih melakukan ekspansi jumlah staf secara masif, perusahaan kini memprioritaskan integrasi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi untuk mendongkrak produktivitas. Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga efisiensi operasional dengan struktur organisasi yang lebih ramping.
Skenario ketiga berkaitan dengan restrukturisasi organisasi secara menyeluruh. Laporan tren perekrutan menunjukkan adanya moderasi dalam rencana penambahan tenaga kerja di berbagai sektor. Perusahaan kini lebih memilih untuk merampingkan posisi operasional dan fokus pada peningkatan kualitas talenta yang sudah ada dibandingkan terus memperluas kapasitas personel secara tradisional.
Secara keseluruhan, fenomena ini mencerminkan dinamika pasar yang lebih adaptif. Meskipun memicu tekanan biaya bagi pengusaha, kenaikan upah dianggap sebagai sinyal positif terhadap pemulihan ekonomi dan kesejahteraan pekerja. Ke depan, pasar tenaga kerja diprediksi akan menjadi jauh lebih fleksibel, di mana perusahaan maupun tenaga kerja memiliki opsi yang lebih variatif dalam menjalin hubungan profesional.