Pemerintah melalui Danantara Indonesia resmi melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Denpasar, Bali, pada Rabu (8/7/2026). Proyek strategis bernilai investasi Rp3 triliun ini digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang dalam penanganan limbah sekaligus mendukung bauran energi terbarukan di Pulau Dewata.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa pemilihan teknologi PSEL ini telah melalui kajian mendalam melalui studi banding ke berbagai negara. "Kami mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Teknologi yang kita terapkan telah teruji di 50 negara dunia, sehingga kami optimistis proyek ini tuntas sesuai jadwal pada Desember 2027," ujar Rosan.
Dari sisi dampak lingkungan, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, memaparkan bahwa fasilitas seluas 6 hektare ini diproyeksikan mampu mereduksi hingga 40 persen volume sampah di Bali. Selain itu, operasional pabrik tersebut diperkirakan mampu menekan emisi karbon sebanyak 640.000 ton CO2 per tahun, sembari memberikan pasokan listrik bagi 100.000 rumah tangga.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan arahan langsung Presiden sebagai bentuk urgensi penanganan sampah di destinasi wisata dunia. Pemerintah juga telah melakukan deregulasi aturan yang sebelumnya dinilai menghambat perizinan pengelolaan sampah.
"Presiden sangat menaruh perhatian besar terhadap kebersihan Bali sebagai wajah pariwisata Indonesia. Kami telah memangkas kerumitan birokrasi yang selama ini menghambat pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah agar target penuntasan masalah darurat sampah bisa segera terealisasi," tambah Zulkifli.