Pemerintah Vietnam melalui Yayasan Nasional Pengembangan Sains dan Teknologi (NAFOSTED) tengah menyiapkan draf kebijakan keuangan inovatif untuk mempercepat pengembangan teknologi strategis nasional. Kebijakan ini bertujuan mendobrak hambatan birokrasi yang selama ini membelenggu proses riset, pengembangan, hingga komersialisasi teknologi inti di dalam negeri.

Salah satu terobosan paling signifikan dalam draf tersebut adalah penawaran insentif pendapatan yang sangat kompetitif untuk menarik tenaga ahli berkualitas tinggi. Kepala Insinyur proyek teknologi strategis diusulkan menerima pendapatan hingga 300 juta VND (sekitar Rp187 juta) per bulan. Selain itu, posisi Kepala Arsitek diproyeksikan menerima 250 juta VND, serta Manajer Proyek sebesar 150 juta VND per bulan.

Direktur NAFOSTED, Dao Ngoc Chien, menjelaskan bahwa paradigma manajemen harus bergeser dari sekadar mengelola administrasi penelitian menuju pengelolaan proyek berbasis hasil dan kebutuhan pasar. Langkah ini diambil agar pengembangan teknologi tidak hanya berhenti pada prototipe, tetapi mampu bertransformasi menjadi produk yang berdaya saing di pasar global.

Program ini menetapkan target ambisius pada tahun 2030, yakni menghasilkan lebih dari 30 produk teknologi strategis, di mana 10 di antaranya ditargetkan mampu bersaing di tingkat regional dan internasional. Pemerintah juga akan mengadopsi mekanisme 'sandbox' yang memberikan fleksibilitas lebih besar bagi peneliti, termasuk membolehkan adanya risiko dalam penelitian serta memberikan otonomi penuh kepada organisasi pelaksana proyek.

Perubahan ini mencerminkan pergeseran pola pikir dari 'manajemen biaya' menjadi 'investasi strategis'. Dengan menyediakan dana cadangan risiko sebesar 10% dari anggaran proyek dan penyederhanaan prosedur keuangan, Vietnam berupaya menciptakan ekosistem riset yang lebih gesit guna menguasai teknologi inti dan memperkuat kedaulatan industri teknologi nasional.