Sektor swasta asal Eropa secara resmi menyerukan penguatan sinergi dengan pemerintah untuk mengakselerasi ketahanan gizi dan layanan kesehatan preventif di kawasan ASEAN. Seruan ini mengemuka dalam peluncuran laporan bertajuk "Health, Nutrition & Lifestyle: Boosting ASEAN's Health and Economic Resilience Through a Life-Course Framework" di Jakarta, yang mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas keberlanjutan agenda kesehatan nasional.
Laporan tersebut menekankan bahwa kesehatan preventif bukan sekadar aspek kesejahteraan, melainkan investasi strategis yang krusial bagi produktivitas ekonomi. Terdapat tiga pilar utama yang dipetakan yakni ketahanan gizi, promosi gaya hidup sehat, dan penguatan perawatan mandiri sebagai fondasi untuk mencetak sumber daya manusia yang kompetitif di masa depan.
Direktur Eksekutif EU-ASEAN Business Council, Chris Humphrey, menyoroti efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia sebagai langkah awal yang progresif. Menurutnya, tantangan saat ini terletak pada implementasi berskala luas, di mana sektor industri siap berkontribusi melalui reformulasi produk, penguatan rantai pasok, hingga transparansi informasi gizi bagi masyarakat.
Pihak Kementerian Kesehatan RI, yang diwakili oleh Sri Ridha Hasanah dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesehatan masyarakat harus dipandang sebagai entitas yang saling mendukung. Pemerintah membuka ruang lebar bagi kolaborasi multipihak untuk mencapai target kesehatan nasional yang terukur.
Sebanyak 29 rekomendasi strategis telah disiapkan dalam laporan tersebut untuk menjadi panduan konkret bagi pemerintah dan pelaku industri. Dengan komitmen jangka panjang, EU-ABC menyatakan kesiapannya untuk membawa pengalaman dan keahlian dari Eropa dalam memperkuat sistem kesehatan yang lebih berkelanjutan dan sirkular bagi masyarakat Indonesia.