Aliansi Perdagangan dan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) secara resmi mengajak para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta petani di tanah air untuk mengoptimalkan potensi budidaya tanaman kelor (Moringa). Langkah ini digagas sebagai salah satu strategi konkret dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui model bisnis agro yang berkelanjutan.
Ketua Umum APIKI, Anto Suroto, menjelaskan bahwa keunggulan utama dari budidaya kelor terletak pada fleksibilitasnya jika dikelola dengan sistem tumpang sari. Petani dapat memaksimalkan produktivitas lahan dengan menanam komoditas hortikultura pendamping, seperti cabai, terong, tomat, hingga kacang-kacangan. Integrasi ini memungkinkan petani memperoleh pendapatan harian atau mingguan dari tanaman hortikultura, sembari menanti masa panen tanaman kelor.
Selain strategi tanam, APIKI juga menekankan pentingnya penggunaan pupuk cair organik untuk meningkatkan kualitas hasil panen. Penerapan metode pertanian organik dinilai tidak hanya mampu mendongkrak daya saing produk di pasar domestik maupun internasional, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan konsumen.
Sebagai bentuk komitmen nyata, APIKI telah menjalin sinergi dengan Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) serta Media Independen Online Indonesia (MIO-IND). Ketiga organisasi ini berencana menginisiasi proyek percontohan berupa pengembangan Agro Wisata Terpadu di lahan seluas 6 hingga 10 hektare. Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi pusat pemberdayaan UMKM dan inkubasi komoditas pertanian berorientasi ekspor.
Anto Suroto optimistis bahwa kolaborasi lintas sektor ini akan menjadi katalisator bagi pelaku UMKM untuk lebih mandiri dan kompetitif. Dengan terbukanya pasar global bagi produk berbasis kelor, sinergi antara pemangku kepentingan diharapkan mampu menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif sekaligus meningkatkan taraf hidup komunitas petani di Indonesia.