Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) resmi memperkenalkan inovasi teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) bagi kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Raja Ikan di Kelurahan Kampung Empat, Kota Tarakan. Inisiatif ini dirancang untuk mengatasi kendala klasik dalam pendederan benih lele, yakni tingginya konsumsi air dan fluktuasi kualitas lingkungan yang kerap menghambat pertumbuhan ikan.

Proyek kolaboratif lintas disiplin ini dimotori oleh Miska Sanda Lembang dari Program Studi Akuakultur, dibantu oleh Noerman Adi Prasetya di bidang teknik konstruksi dan Rusdy Setiawan di bidang manajemen ekonomi. Melalui pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tim membangun fasilitas kolam terintegrasi yang mampu menyaring kembali air sisa budidaya, sehingga sirkulasi air tetap terjaga kebersihannya dengan penggunaan volume yang lebih efisien.

Sejak dimulai pada Mei 2026, program ini mencakup serangkaian tahapan mulai dari sosialisasi teknis, pembangunan infrastruktur kolam beton yang presisi, hingga pemasangan instalasi filtrasi dan sistem aerasi. Teknologi RAS yang diterapkan memungkinkan petani lele memantau kualitas air secara lebih akurat, sekaligus menekan risiko kematian benih yang sering terjadi akibat penumpukan limbah organik di dalam kolam.

Lebih dari sekadar bantuan fisik, pendampingan ini juga menyasar aspek keberlanjutan usaha. Anggota kelompok diberikan edukasi mengenai analisis biaya produksi, pencatatan keuangan, hingga standar operasional prosedur (SOP) budidaya modern. Dukungan ini mencakup pula penyediaan alat pengukur kualitas air dan bak sortir untuk meminimalisir sifat kanibalisme antar ikan lele.

Ketua Pokdakan Raja Ikan, Sadirun, menyatakan apresiasinya terhadap dukungan akademisi UBT. Ia berharap fasilitas baru ini menjadi batu loncatan bagi kelompoknya untuk meningkatkan skala produksi secara mandiri. Inovasi ini diharapkan menjadi model percontohan bagi pembudidaya lain di Tarakan dalam menciptakan ekosistem perikanan yang produktif, hemat sumber daya, serta berkontribusi pada ketahanan protein hewani di tingkat daerah.