Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kini mulai tancap gas mempercepat transformasi pendidikan nasional. Langkah strategis ini diwujudkan melalui inisiatif Pelatihan Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) 2026, yang dirancang untuk membekali para pendidik menghadapi disrupsi teknologi di era modern.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan bahwa pola pendidikan tradisional yang berfokus pada penghafalan materi sudah tidak lagi relevan. Di abad ke-21, sekolah dituntut untuk mencetak individu yang tidak hanya kritis dan kreatif, tetapi juga memiliki literasi digital yang mumpuni agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola kerja dan komunikasi yang serba digital.

Dalam acara peluncuran program di Jakarta, Kamis (9/7), Abdul Mu’ti menyoroti urgensi penguasaan teknologi bagi tenaga pengajar. Menurutnya, kemampuan mengoperasikan kecerdasan artifisial (AI) kini menjadi syarat mutlak agar siswa dapat bersaing dalam ekosistem dunia kerja masa depan yang semakin kompetitif dan otomatis.

Merujuk pada pemikiran Toby Walsh mengenai konsep 'Homo Digitalis', Mendikdasmen menjelaskan bahwa manusia di masa depan akan hidup berdampingan secara erat dengan teknologi AI. Oleh karena itu, penguasaan teknologi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen utama bagi guru dan siswa untuk memaksimalkan efisiensi serta efektivitas proses pembelajaran di dalam kelas.