Di balik selimut kabut pagi yang menyelimuti lereng Gunung Semeru, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, tersimpan rahasia besar dalam industri kopi nasional. Para petani setempat telah lama mempraktikkan sistem tumpang sari yang memadukan tanaman kopi robusta dengan pohon buah-buahan serta rempah-rempah. Metode budidaya yang diwariskan secara turun-temurun ini terbukti menjadi kunci keberhasilan dalam menghasilkan biji kopi dengan profil rasa yang distingtif.

Rifki Medianto, seorang pegiat kopi sekaligus pengelola Djodog Caffe, mengungkapkan bahwa konsistensi kualitas menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing di pasar domestik maupun internasional. Menurutnya, meskipun harga kopi di tingkat petani sempat mengalami fluktuasi akibat dinamika suplai, permintaan terhadap Robusta Senduro tetap tinggi. Saat ini, harga kopi kering berada di kisaran Rp65.000 per kilogram, sebuah angka yang mencerminkan stabilitas pasar setelah periode kelangkaan pada awal tahun ini.

Keunggulan komparatif kopi asal Senduro terletak pada profil rasa yang kompleks. Berbeda dengan robusta pada umumnya yang cenderung memiliki rasa pahit pekat, kopi dari lereng Semeru ini menawarkan sensasi aroma buah dan rempah yang menyatu akibat interaksi alami ekosistem tumpang sari. Karakteristik ini pun berhasil menarik minat pasar mancanegara, termasuk Singapura, Malaysia, Dubai, hingga Turki, sebagai bukti bahwa kualitas produk lokal mampu bersaing di panggung global.

Selain robusta, potensi varietas Liberika kini mulai mendapat perhatian serius di kalangan komunitas kopi atau coffee enthusiast. Meski memiliki profil rasa yang menjanjikan, tantangan utama saat ini terletak pada minimnya edukasi petani dalam mengenali dan memisahkan varietas tersebut dari hasil panen lainnya. Rifki menekankan perlunya pemahaman botani yang lebih baik agar Liberika dapat diproses secara profesional dan memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di kaki Gunung Semeru.