Sistem pembayaran digital kebanggaan Indonesia, QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), kini bersiap merambah pasar India. Pemerintah Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto telah mengonfirmasi bahwa pembahasan teknis mengenai sistem pembayaran lintas batas berbasis QR antara Indonesia dan India tengah dalam tahap penyelesaian.

Kesepakatan ini mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Jika integrasi ini rampung, India akan menjadi negara strategis berikutnya yang mengadopsi QRIS, memberikan kemudahan akses transaksi bagi wisatawan maupun pelaku bisnis dari kedua negara dengan populasi besar tersebut.

Sejak diluncurkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2019, QRIS telah bertransformasi dari instrumen pembayaran domestik menjadi infrastruktur keuangan lintas negara yang sangat aktif. Hingga pertengahan 2026, sistem ini telah digunakan oleh lebih dari 30 juta pedagang dan 45 juta pengguna aktif di seluruh Indonesia, membuktikan inklusivitasnya yang masif.

Keberhasilan QRIS dalam menyatukan berbagai kanal pembayaran ke dalam satu standar nasional kini menjadi acuan bagi negara-negara tetangga. Selain telah terhubung dengan berbagai negara di kawasan ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Laos, dan Brunei Darussalam, model QRIS juga mulai diadopsi oleh otoritas keuangan luar negeri. Bank Negara Malaysia, misalnya, dilaporkan mulai menerapkan standarisasi serupa untuk menggantikan sistem QR tertutup guna mencapai efisiensi yang setara dengan konsep yang diusung Indonesia.

Dengan semakin luasnya jangkauan dan pengakuan internasional, QRIS kini tidak sekadar berfungsi sebagai alat transaksi domestik. Teknologi ini telah menjadi aset kebanggaan nasional yang menempatkan Indonesia di jajaran pemimpin inovasi sistem pembayaran digital modern di Asia.