Jakarta — Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa (FABEM-SM) bersama Masyarakat Sipil Kritis Pengawal Prabowo-Gibran (Masker Pragi) mengeluarkan seruan kolektif untuk menjaga persatuan bangsa. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap situasi ekonomi nasional yang dinamis serta gejolak geopolitik global yang dinilai memerlukan sikap bijak dari seluruh elemen masyarakat.
Koordinator Nasional Masker Pragi sekaligus Wakil Ketua Umum DPP FABEM-SM, Tody Ardiansyah Prabu, menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap berada dalam kendali pemerintah. Meskipun nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga menembus angka Rp18.000 per dolar AS, Tody memastikan bahwa koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia berjalan efektif dalam menjaga stabilitas makro ekonomi.
Terkait maraknya aksi unjuk rasa mahasiswa, Tody mengingatkan bahwa penyampaian aspirasi adalah elemen esensial dalam demokrasi yang harus dihargai. Namun, ia menekankan agar gerakan tersebut dilakukan secara damai dan solutif. Ia berpesan agar mahasiswa tetap mengedepankan nalar kritis yang konstruktif guna menghindari potensi perpecahan yang tidak diinginkan di tengah situasi dunia yang tidak menentu.
Menanggapi narasi yang berkembang mengenai krisis ekonomi, Tody menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang berfokus pada agenda strategis seperti penguatan ketahanan pangan, kemandirian energi, dan reformasi ekonomi. Ia menepis anggapan negatif mengenai kondisi kebangkrutan nasional, dengan menegaskan bahwa pemerintah sedang berupaya memperkuat kedaulatan ekonomi untuk menghadapi persaingan regional.
Data terkini menunjukkan optimisme baru bagi ekonomi domestik, di mana rupiah mencatatkan penguatan ke level Rp17.860 per dolar AS per pertengahan Juni 2026. Pemulihan ini dipicu oleh sejumlah kebijakan strategis, termasuk penyesuaian BI Rate, masuknya aliran modal asing, serta keberhasilan penerbitan obligasi internasional, yang secara kolektif membuktikan ketahanan ekonomi Indonesia terhadap tekanan pasar global.