Di era digital saat ini, kebiasaan menggulir linimasa media sosial secara obsesif untuk mencari kabar terkini—atau yang lebih dikenal dengan istilah doomscrolling—telah menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Tanpa disadari, perilaku ini tidak sekadar menghabiskan waktu, melainkan memiliki dampak nyata terhadap stabilitas emosional dan kesehatan mental seseorang.

Istilah doomscrolling sendiri merujuk pada dorongan untuk terus mengonsumsi informasi yang memicu kecemasan, ketakutan, atau kekhawatiran secara berulang. Meski berawal dari kebutuhan untuk mendapatkan pembaruan informasi, paparan konten negatif yang terjadi terus-menerus dapat memicu respons biologis di mana otak manusia secara alami cenderung lebih responsif terhadap ancaman daripada berita positif.

Para ahli psikologi, termasuk data dari American Psychological Association, menegaskan bahwa paparan berkepanjangan terhadap arus informasi yang memicu stres dapat mengakibatkan kelelahan emosional yang serius. Kondisi ini membuat individu merasa kewalahan dalam menjalankan rutinitas harian, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental yang lebih kompleks.

Selain ancaman psikologis, doomscrolling turut menjadi musuh utama bagi kualitas tidur. Kebiasaan mengakses gawai sesaat sebelum beristirahat tidak hanya membuat otak tetap berada dalam kondisi siaga akibat paparan cahaya layar, tetapi konten yang mengundang gejolak emosi juga mempersulit tubuh untuk mencapai fase relaksasi yang diperlukan untuk tidur nyenyak.