Fenomena embun beku (frost) dilaporkan mulai menyelimuti kawasan dekat Puncak Gunung Gede seiring masuknya musim kemarau di Indonesia. Selain penurunan suhu udara yang drastis, masyarakat di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor, kini juga merasakan hembusan angin yang lebih kencang serta suhu air yang jauh lebih dingin dibandingkan saat musim penghujan.
Kepala BMKG Citeko-Cisarua, Fatuhri, menjelaskan bahwa kondisi cuaca ini dipicu oleh perubahan musim secara periodik, di mana belahan bumi selatan, khususnya Benua Australia, saat ini sedang mengalami puncak musim dingin. Perbedaan tekanan udara yang signifikan mendorong massa udara yang dingin dan kering dari daratan Australia berhembus menuju wilayah Indonesia.
"Massa udara dingin dari Australia inilah yang saat ini kita rasakan sebagai hembusan angin yang cukup kencang dan dingin dari arah tenggara," ujar Fatuhri pada Kamis (23/7/2026). Karakteristik angin yang kering ini juga memicu penurunan drastis pasokan uap air di atmosfer, sehingga pembentukan awan hujan menjadi sangat minim di sebagian besar wilayah Jawa.
Kondisi atmosfer yang bersih tanpa tutupan awan memicu pelepasan panas bumi ke angkasa berlangsung sangat cepat pada malam hari. Akibatnya, suhu udara di sejumlah dataran tinggi di Pulau Jawa dapat merosot tajam hingga di bawah 5 derajat Celsius pada malam hingga dini hari, memicu terbentuknya kristal es atau embun upas di permukaan dedaunan.
Di Kabupaten Bogor, pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) membenarkan terjadinya fenomena embun beku ini di sekitar area puncak. Mengantisipasi risiko hipotermia, BMKG mengimbau para pendaki dan warga yang beraktivitas di kawasan pegunungan untuk mempersiapkan perlengkapan penghangat yang memadai dan terus memantau informasi cuaca terkini.