Fenomena ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap makanan berbahan dasar tepung, atau yang kini populer dengan sebutan 'Republik Tepung', mulai mendapat perhatian serius dari kalangan medis. Produk seperti mi instan, gorengan, hingga aneka jajanan pasar telah menjadi pilihan utama masyarakat karena faktor harga yang terjangkau serta kepraktisan penyajiannya.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Iman Permana, M.Kes., Ph.D., menegaskan bahwa meskipun tepung merupakan sumber energi, konsumsi berlebih tanpa kontrol kalori akan menjadi bumerang bagi kesehatan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berkontribusi signifikan terhadap lonjakan kasus penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga stroke.

Dr. Iman menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada sifat karbohidrat sederhana dalam tepung yang memicu lonjakan gula darah secara cepat. Seringkali, makanan berbahan tepung juga diolah dengan cara digoreng menggunakan minyak yang dipanaskan berulang kali, sehingga meningkatkan paparan lemak jenuh yang memicu resistensi insulin dan obesitas.

Selain faktor kenyamanan, aksesibilitas ekonomi menjadi alasan utama mengapa masyarakat lebih memilih konsumsi pangan berbahan tepung dibandingkan protein atau sayuran. Hal ini menciptakan siklus ketergantungan yang tidak sehat, di mana rasa kenyang sesaat yang ditimbulkan oleh tepung membuat seseorang lebih cepat merasa lapar dan cenderung mengonsumsi makanan dalam porsi berlebih.

Menghadapi tantangan ini, dr. Iman menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Pemerintah diharapkan mampu menekan harga komoditas pangan sehat seperti ikan, sayur, dan protein hewani agar lebih kompetitif. Di sisi lain, diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal seperti singkong, jagung, dan sagu harus terus digalakkan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis karbohidrat.

Edukasi literasi gizi menjadi langkah kunci untuk mengubah pola konsumsi masyarakat di masa depan. Dr. Iman mengimbau agar masyarakat tidak perlu menghindari tepung secara total, melainkan lebih bijak dalam mengatur porsi dan memastikan asupan nutrisi yang lebih seimbang serta aktif melakukan aktivitas fisik guna menjaga kebugaran tubuh secara berkelanjutan.