Pasar modal Amerika Serikat mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Senin (13/7/2026). Indeks utama Wall Street mencatatkan pelemahan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terkait rencana pemberlakuan kembali blokade di sejumlah pelabuhan Iran, menyusul eskalasi ketegangan antara kedua negara tersebut.

Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,26 persen ke level 52.498,7. Penurunan yang lebih tajam terjadi pada indeks S&P 500 yang terkoreksi 0,79 persen, sementara indeks komposit Nasdaq mengalami kontraksi mendalam sebesar 1,55 persen ke angka 25.873,18.

Sektor teknologi menjadi penekan utama pasar, dengan indeks Philadelphia SE Semiconductor anjlok hingga 4,78 persen. Emiten besar seperti SanDisk, Marvell Technology, dan Intel mencatat koreksi harga saham yang drastis, berkisar antara 6,1 persen hingga 12,6 persen. Saham SK Hynix juga terpantau merosot 9,3 persen setelah sempat mencatatkan kinerja impresif pada debutnya pekan lalu.

Di tengah kondisi tersebut, fokus investor kini beralih pada agenda pidato Chairman Federal Reserve, Kevin Warsh, di hadapan Kongres. Pasar menanti kejelasan mengenai arah kebijakan moneter The Fed di tengah bayang-bayang inflasi akibat dampak geopolitik perang AS-Iran. Proyeksi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun kini menjadi sorotan utama pelaku pasar.

Sementara itu, sektor energi justru menunjukkan performa positif seiring kenaikan harga minyak dunia sebagai imbas dari kekhawatiran pasokan. Sebaliknya, aset safe-haven seperti emas mengalami tekanan dengan penurunan harga sebesar 2,6 persen, terpengaruh oleh penguatan indeks dolar AS yang naik 0,32 persen.

Situasi serupa turut mewarnai bursa Eropa, di mana indeks STOXX 600 berakhir stagnan akibat kekhawatiran yang sama terhadap stabilitas Timur Tengah. Indeks FTSE 100 London dan DAX 30 Jerman bergerak variatif, mencerminkan ketidakpastian investor global terhadap prospek ekonomi dalam waktu dekat.