Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berlokasi di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan geliat aktivitas vulkaniknya pada Kamis (2/7/2026) siang. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), letusan terjadi tepat pada pukul 14.05 WIB dengan memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 200 meter di atas puncak.

Material abu yang disemburkan teramati memiliki warna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal yang bergerak ke arah barat laut. Rekaman seismograf menunjukkan erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimal 23 milimeter dengan durasi singkat selama 20 detik.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengonfirmasi bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika rutin gunung api tersebut. Pihaknya terus melakukan pemantauan intensif guna memastikan perkembangan situasi tetap terpantau dengan baik dari pos pengamatan.

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan berada di Level II atau Waspada. Fenomena ini tercatat sebagai erupsi perdana di tahun 2026, setelah terakhir kali gunung tersebut menunjukkan aktivitas signifikan pada Desember 2024 silam.

Otoritas terkait mengimbau masyarakat, nelayan, serta wisatawan untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh disinformasi yang beredar. Pihak PVMBG secara tegas melarang segala bentuk aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif demi menghindari risiko bahaya yang mungkin muncul sewaktu-waktu.