Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Perbukitan Biru, yang termasuk dalam Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kabupaten Mojokerto, menghadapi rintangan berat. Medan geografis yang ekstrem menjadi faktor utama yang menghambat tim gabungan untuk mendekati titik-titik api yang berkobar.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, menjelaskan bahwa berdasarkan pantauan terkini, terdapat sedikitnya empat titik api yang tersebar di wilayah Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Tahura Raden Soerjo. Area yang terbakar ini secara administratif masuk dalam wilayah Desa Gumeng dan Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang.

Menurut Rinaldi, rintangan terbesar bagi personel di lapangan adalah keberadaan jurang-jurang terjal yang memisahkan perbukitan satu dengan lainnya. Kondisi topografi ini sangat membahayakan keselamatan petugas, sehingga mereka harus mencari jalur alternatif yang aman demi bisa melakukan pemadaman secara manual.

Guna mengantisipasi situasi yang kian dinamis, petugas terus melakukan pengawasan intensif. Pemantauan tidak hanya mengandalkan patroli darat secara konvensional, tetapi juga memanfaatkan teknologi aplikasi khusus pemantauan karhutla serta terus memantau arah embusan angin yang saat ini dilaporkan bergerak menuju wilayah Batu.

Dalam operasi darurat ini, sinergi lintas sektor terus diperkuat. Berbagai unsur seperti BPBD Jawa Timur, Polres Mojokerto, Polsek Pacet, petugas Tahura, kalangan mahasiswa, serta kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) bahu-membahu di lapangan demi melokalisasi kobaran api agar tidak meluas.