Pemerintah Indonesia memanfaatkan gelaran Forum Bisnis Indonesia–Rusia di ajang INNOPROM 2026, yang berlangsung di Ekaterinburg, untuk memperluas diplomasi industri berbasis kelapa sawit. Dalam forum bertema "Palm Oil and the Future of Sustainable Energy" tersebut, Indonesia memposisikan komoditas sawit sebagai elemen kunci dalam transisi global menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi nasional untuk menjadikan industri sawit sebagai penggerak ekonomi sekaligus solusi atas krisis energi. Melalui hilirisasi dan kolaborasi teknologi dengan negara-negara Eurasia, Indonesia berupaya meningkatkan nilai tambah produk nasional di pasar internasional.
Salah satu sorotan utama dalam forum tersebut adalah implementasi mandatori biodiesel B50 yang resmi berlaku mulai Juli 2026. Program yang mewajibkan campuran 50 persen biodiesel berbahan minyak sawit ini dipaparkan sebagai langkah konkret Indonesia dalam menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil serta memitigasi emisi karbon secara signifikan.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy, menyebutkan bahwa kehadiran Indonesia di ajang tersebut sekaligus membuktikan transformasi sektor sawit yang telah melampaui perannya sebagai komoditas ekspor mentah. Indonesia kini lebih berfokus pada inovasi teknologi industri hilir yang ramah lingkungan.
Selain aspek teknis, pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap standar keberlanjutan global melalui penguatan sistem sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Upaya ini didukung dengan peremajaan kebun rakyat dan pengembangan teknologi biodiesel yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk memastikan industri berjalan seiring dengan agenda energi hijau dunia.