Universitas Teuku Umar (UTU) melalui tim pengabdian masyarakat memperkenalkan teknologi inovatif bernama Aquaponik Padi Apung Amfibi (APA Amfibi). Terobosan ini dirancang khusus sebagai solusi adaptif bagi masyarakat yang berdomisili di kawasan rawan bencana banjir, agar kegiatan budidaya pangan tetap berjalan meski area lahan tergenang air.
Proyek kolaboratif ini melibatkan dosen dari Program Studi Akuakultur UTU serta Fakultas Pertanian Universitas Iskandar Muda. Penerapan teknologi tersebut dilakukan langsung di lapangan bagi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bersatu Teguh, sebagai upaya nyata menjaga stabilitas ekonomi petani saat musim penghujan tiba.
Ketua tim pengabdian, Dini Islama, S.Kel., M.Si., menjelaskan bahwa sistem ini mengandalkan konsep pertanian ramah lingkungan. Dengan mengintegrasikan budidaya ikan dan padi di atas rakit apung, limbah organik dari sisa pakan dan kotoran ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi alami bagi tanaman padi, yang sekaligus membantu menjaga kualitas air kolam tetap optimal.
"Teknologi APA Amfibi tidak hanya berfungsi sebagai mitigasi dampak banjir, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi keluarga pembudidaya. Dengan sistem ini, risiko kehilangan hasil panen dapat ditekan secara signifikan," ujar Dini pada Senin (13/7/2026).
Ketua Pokdakan Bersatu Teguh, Ida Suriana, mengungkapkan rasa optimisnya terhadap kehadiran sistem ini. Ia menyatakan bahwa selama ini banjir menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha tani mereka, namun dengan media tanam terapung, ketahanan pangan dan pendapatan rumah tangga kini menjadi lebih terjamin.
Program ini mendapat dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Tahun Anggaran 2026. Ke depan, tim pengabdian berkomitmen untuk melakukan pendampingan berkelanjutan serta evaluasi teknis, guna memetakan potensi replikasi sistem ini ke wilayah lain di Kabupaten Aceh Barat sebagai langkah strategis adaptasi perubahan iklim.