Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., menegaskan bahwa kemajuan perguruan tinggi di masa depan tidak bisa hanya mengandalkan akselerasi teknologi semata. Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi global, institusi pendidikan tinggi dituntut untuk tetap memegang teguh pondasi karakter, amanah, dan pengabdian masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Harjo selepas melakukan kunjungan reflektif ke kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon, Kamis (9/7/2026). Bersama jajaran Wakil Rektor, Harjo memaknai keteladanan Sunan Gunung Jati sebagai kompas moral bagi pembangunan kampus agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat.
Menurut Harjo, filosofi 'Ingsun titip tajug lan fakir miskin' yang diwariskan Sunan Gunung Jati memiliki relevansi mendalam bagi dunia pendidikan modern. 'Tajug' dimaknai sebagai institusi pendidikan yang wajib menjaga kualitas akademik dan karakter, sementara 'fakir miskin' menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan kampus, termasuk digitalisasi dan pengelolaan aset, harus bermuara pada keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.
Ia menambahkan bahwa meski teknologi seperti AI mampu memacu inovasi dan efisiensi, teknologi hanyalah instrumen. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan empati. Pendidikan harus mampu menjadi 'pelabuhan ilmu' yang terbuka terhadap gagasan global tanpa melunturkan semangat patriotisme dan identitas bangsa.
Sebagai penutup, Harjo menegaskan bahwa tolak ukur keberhasilan perguruan tinggi di tahun 2026 bukan sekadar pada kecanggihan infrastruktur atau luasnya jejaring internasional. Sebaliknya, kemajuan sejati terletak pada seberapa besar amanah dijaga, keteladanan yang dihadirkan, serta sejauh mana ilmu pengetahuan diaplikasikan untuk kemaslahatan umat manusia.