Bagi bek Persebaya Surabaya, Arief Catur Pamungkas, gelaran Piala Dunia 2026 bukan sekadar pesta sepak bola yang menyajikan hiburan semata. Ia memanfaatkan ajang bergengsi ini sebagai laboratorium untuk mengamati detail teknis dan meningkatkan kualitas permainannya di lapangan hijau.

Fokus utama Catur tertuju pada performa pemain bertahan kelas dunia. Ia mengaku sangat terinspirasi oleh gaya bermain bek Timnas Prancis, Jules Kounde. Menurutnya, Kounde memiliki atribut lengkap yang patut ditiru, terutama dalam keseimbangan saat mengawal pertahanan sekaligus memberikan kontribusi ofensif melalui peran bek sayap.

Lebih dari sekadar taktik, Catur juga menyoroti aspek profesionalisme para pemain top yang berlaga di level internasional. Ia belajar banyak mengenai disiplin tinggi dalam menjaga kebugaran fisik serta konsistensi dalam rutinitas latihan harian untuk menjaga performa puncak sepanjang musim kompetisi.

Terkait preferensi tim, Catur secara terbuka mendukung Jerman karena kekagumannya pada filosofi permainan kolektif yang mengutamakan operan pendek. Meski langkah 'Der Panzer' harus terhenti di babak 32 besar, ia tetap mengapresiasi kualitas sepak bola yang ditunjukkan negara tersebut.

Di sisi lain, laga sengit antara Amerika Serikat dan Turki yang berakhir dengan skor 2-3 menjadi salah satu pertandingan paling berkesan bagi Catur. Intensitas tinggi dan aksi saling berbalas gol dalam laga tersebut dianggapnya sebagai bukti nyata mengapa Piala Dunia tetap menjadi tontonan yang paling dinantikan bagi setiap insan sepak bola.