Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara resmi meluncurkan program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) guna menekan prevalensi kebutaan di wilayahnya. Inisiatif strategis ini menjadikan Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo sebagai lokasi percontohan untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mata yang lebih komprehensif dan mudah diakses oleh masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menjelaskan bahwa prevalensi katarak di wilayahnya mencapai 2,4 persen, di mana 80 persen penyebab utama kebutaan bersumber dari penyakit tersebut. Zulfachmi menyoroti kendala utama yang dihadapi, yakni rendahnya literasi kesehatan yang menyebabkan 60 persen kasus kebutaan terlambat mendapatkan penanganan medis. Oleh sebab itu, edukasi masyarakat menjadi pilar utama dalam strategi ini.

Program I-SEE menerapkan empat strategi inti, yakni pemberdayaan masyarakat melalui deteksi dini, optimalisasi layanan di tingkat puskesmas, efisiensi sistem rujukan ke rumah sakit, serta sistem pemantauan yang ketat. Zulfachmi menegaskan pentingnya penanganan dini, terutama pada kasus katarak, untuk mencegah kondisi mata yang semakin parah sehingga prosedur medis menjadi lebih kompleks.

Direktur Pelaksana YSKK, Iwan Setiyoko, menyampaikan bahwa pemilihan tiga kabupaten pilot proyek didasarkan pada asesmen kebutuhan yang mendalam serta komitmen kuat dari pemerintah daerah setempat. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan model layanan kesehatan mata yang berkelanjutan dan dapat direplikasi ke daerah lain di Jawa Tengah.

Selain aspek medis, aspek aksesibilitas fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian serius melalui keterlibatan organisasi penyandang disabilitas. Country Director CBM Global Indonesia, Marisa Kristianah, menegaskan bahwa fasilitas publik, termasuk puskesmas dan rumah sakit, harus dilengkapi dengan aksesibilitas ramah disabilitas seperti jalur landai dan toilet khusus. Hal ini merupakan langkah nyata agar layanan kesehatan benar-benar inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat diimbau agar tidak khawatir menjalani tindakan medis, karena prosedur operasi katarak kini jauh lebih efisien dengan durasi sekitar 15 menit dan masa pemulihan yang singkat. Selain itu, integrasi penuh dengan program BPJS Kesehatan memastikan bahwa seluruh rangkaian layanan ini dapat diakses secara gratis, khususnya bagi warga di daerah yang telah mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) 100 persen.