Lembaga keuangan global, JPMorgan Chase & Co., melayangkan peringatan terkait dinamika pasar mata uang kripto menyusul perubahan kebijakan pendanaan yang diterapkan oleh perusahaan perangkat lunak, MicroStrategy. Langkah strategis yang dipimpin oleh Michael Saylor ini disinyalir dapat mengubah posisi MicroStrategy dari pembeli aset digital terbesar menjadi salah satu penjual di masa depan.
Dalam laporan terbarunya, JPMorgan menyoroti bahwa keputusan perusahaan untuk menjual sebagian aset Bitcoin guna membiayai dividen saham preferen serta menyeimbangkan neraca keuangan telah menciptakan arus transaksi dua arah yang tidak diinginkan. Fenomena ini dinilai menambah ketidakpastian bagi para investor yang selama ini memandang MicroStrategy sebagai pemegang Bitcoin jangka panjang.
Lebih lanjut, analis dari bank investasi tersebut menyatakan bahwa meskipun MicroStrategy tetap mempertahankan cadangan kas, efektivitas langkah ini masih diragukan. Perusahaan dinilai memerlukan likuiditas yang memadai untuk menutupi kewajiban dividen dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Hanya dengan jaminan likuiditas yang kuat, investor akan merasa yakin bahwa perusahaan tidak perlu melakukan likuidasi atas kepemilikan Bitcoin miliknya untuk memenuhi kewajiban finansial. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan strategi ini kini menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam memproyeksikan pergerakan harga aset kripto ke depannya.