Langkah mandiri Tiongkok dalam mengembangkan mesin pembuat chip berbasis Deep Ultraviolet (DUV) secara domestik memicu kepanikan luar biasa di pasar keuangan global. Keberhasilan inovasi ini dinilai meruntuhkan dominasi teknologi Barat dan memicu aksi jual massal yang menyasar sektor semikonduktor, khususnya di bursa saham Amerika Serikat.

Pada perdagangan Senin (27/7), sektor saham memori Wall Street mengalami hantaman keras dengan hilangnya nilai kapitalisasi pasar hingga mencapai 541 miliar dolar AS hanya dalam hitungan jam. Raksasa cip Nvidia mencatat penurunan 4,37 persen yang menyapu bersih nilai pasarnya sebesar 300 miliar dolar AS. Pelemahan ini juga diikuti oleh kejatuhan tajam saham SK Hynix sebesar 9,48 persen, SanDisk merosot 10,42 persen, Western Digital turun 5,93 persen, Seagate terkoreksi 5,59 persen, serta Micron yang melemah 4,69 persen.

Kecemasan investor berakar pada potensi melimpahnya pasokan chip global dari pabrik-pabrik di Tiongkok tanpa lagi bergantung pada rantai pasok dan lisensi Barat. Hal ini dikhawatirkan akan memicu perang harga dan merusak profitabilitas global chip memori yang selama ini dikuasai oleh emiten-emiten raksasa AS.

Efek domino dari guncangan sektor teknologi ini segera merembet ke pasar aset kripto, menegaskan eratnya korelasi likuiditas antara saham teknologi berkapitalisasi besar dan aset digital. Akibatnya, harga Bitcoin merosot tajam hingga menyentuh level 63.500 dolar AS, sementara Ethereum tertekan ke posisi 1.880 dolar AS seiring dengan langkah para pelaku pasar yang mengamankan modal mereka ke aset yang lebih aman.