Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masa depan sangat bergantung pada pemenuhan hak kesehatan sejak dini. Fokus utama saat ini diarahkan pada skrining anemia serta edukasi gizi bagi ibu hamil dan balita sebagai langkah krusial dalam mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka prevalensi anemia masih menjadi tantangan serius, yakni mencapai 27,7 persen pada ibu hamil dan 23,08 persen pada balita. Menanggapi kondisi tersebut, Arifah menekankan bahwa pencegahan anemia adalah investasi strategis untuk mewujudkan Generasi Emas 2045. Hal ini sejalan dengan mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada fase seribu hari pertama kehidupan.
Pemerintah kini memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk melibatkan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan pihak swasta untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan. Ketua PP IBI, Ade Jubaedah, menjelaskan bahwa para bidan di seluruh daerah telah diinstruksikan untuk melakukan skrining kesehatan rutin sebelum memberikan layanan imunisasi guna memastikan deteksi dini terhadap risiko kesehatan ibu maupun anak.
Selain intervensi medis, edukasi mengenai gizi seimbang menjadi pilar penting agar masyarakat memiliki kesadaran kolektif dalam mencegah anemia defisiensi besi. Langkah promotif ini diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan serta memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan kemampuan kognitif yang optimal, bebas dari hambatan kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan.