Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melakukan transformasi layanan kesehatan haji dengan menerapkan sistem pemantauan kondisi jemaah secara berkala. Langkah ini dilakukan jauh hari, yakni sejak satu tahun sebelum jadwal keberangkatan, demi memastikan implementasi istithaah kesehatan berjalan optimal.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj, Dani Pramudya, menyatakan bahwa pelayanan kesehatan kini dimulai sejak tahap pembinaan di Tanah Air. Melalui deteksi dini terhadap berbagai faktor risiko kesehatan, jemaah diharapkan memiliki kesiapan fisik yang lebih prima untuk menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Dalam upaya memperkuat sistem tersebut, Kemenhaj menggandeng Pusat Kesehatan TNI untuk mengonsolidasikan sumber daya manusia (SDM) dan penanganan spesifik bagi jemaah dengan risiko tinggi. Fokus kolaborasi ini mencakup pengelolaan medis bagi penderita penyakit kronis, seperti gagal ginjal, hipertensi berat, dan gangguan jantung.

Pusat Kesehatan TNI memberikan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk pengembangan layanan promotif dan preventif, serta optimalisasi pemeriksaan kesehatan di embarkasi. Selain itu, aspek edukasi melalui manasik kesehatan akan ditingkatkan agar setiap jemaah lebih proaktif dalam menjaga kebugaran tubuh serta mengelola penyakit penyerta secara mandiri.

Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pelayanan haji yang terintegrasi, mulai dari fase pembinaan awal hingga pendampingan selama di Arab Saudi. Ke depannya, kedua lembaga akan segera menyusun langkah teknis guna memastikan efektivitas kebijakan kesehatan ini tetap berkelanjutan bagi seluruh jemaah haji Indonesia.