Festival Lima Gunung (FLG) kembali mencatatkan sejarah ketangguhan budaya pada tahun 2026 ini. Selama 25 tahun berturut-turut, perhelatan seni yang digagas oleh Komunitas Lima Gunung (KLG) ini berhasil diselenggarakan tanpa ketergantungan pada sponsor korporasi maupun dana bantuan pemerintah, menjadikannya fenomena kultural yang unik di Indonesia.

Perayaan XXV yang berlangsung di Dusun Warangan, Magelang, pada 10-12 Juli 2026, menjadi saksi bisu konsistensi masyarakat desa dalam menjaga tradisi. Ketua KLG, Sujono, menegaskan bahwa kunci keberlangsungan festival ini terletak pada semangat gotong royong, keikhlasan, dan persaudaraan antarwarga yang telah mendarah daging sejak komunitas ini dirintis oleh budayawan Sutanto Mendut pada 1997 silam.

Uniknya, festival ini melibatkan partisipasi warga secara menyeluruh. Jauh sebelum acara dimulai, penduduk desa bahu-membahu membangun panggung dari material alam dan menyiapkan rumah tinggal bagi ratusan seniman yang datang dari berbagai penjuru. Tahun ini, sebanyak 1.274 seniman dari 85 kelompok seni memeriahkan acara melalui beragam pertunjukan, mulai dari tari tradisional hingga kolaborasi lintas disiplin.

Mengusung tema "Makin Goblok Bareng" yang dicetuskan oleh Sutanto Mendut, festival tahun ini mengajak masyarakat untuk kembali rendah hati di tengah gempuran informasi era digital. Tema tersebut menjadi ajakan reflektif bagi publik agar terus membuka diri untuk belajar bersama, menanggalkan ego, dan membangun peradaban yang lebih manusiawi melalui proses yang jujur.

Lebih dari sekadar panggung hiburan, Festival Lima Gunung telah bertransformasi menjadi ruang dialektika bagi masyarakat di kawasan lereng Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Di usia perak ini, FLG tetap menjadi simbol kekuatan desa dalam merawat kebudayaan sebagai warisan luhur yang terus hidup, berkembang, dan tetap relevan di tengah pesatnya arus perubahan zaman.