PT Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah tengah menghadapi tantangan finansial serius dengan akumulasi kerugian mencapai Rp21 miliar. Meski sempat muncul wacana penutupan dari Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, perusahaan pelat merah tersebut masih dipertahankan karena dinilai memiliki potensi pengembangan yang strategis.

Direktur PRPP Jateng, Heri Kristanto, menjelaskan bahwa angka kerugian yang cukup fantastis tersebut merupakan akumulasi beban yang telah terjadi jauh sebelum dirinya menjabat pada Oktober 2024. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bersifat turun-temurun dan manajemen saat ini tengah fokus pada upaya penyehatan perusahaan.

Lebih lanjut, Heri meluruskan bahwa kerugian tersebut bukan disebabkan oleh biaya operasional, melainkan dampak dari penyusutan nilai aset yang sangat besar. Dengan lahan seluas 40 hektare yang mencakup banyak bangunan, beban penyusutan aset yang harus dicatatkan setiap tahunnya mencapai lebih dari Rp1 miliar.

"Pendapatan kami saat ini sebenarnya masih mencukupi untuk membiayai operasional rutin, namun belum mampu menutup beban penyusutan aset tersebut, sehingga perusahaan belum bisa menyetorkan dividen," ungkap Heri saat dikonfirmasi terkait kondisi keuangan perusahaan.

Saat ini, PT PRPP mengelola tujuh unit bisnis, termasuk destinasi wisata unggulan Grand Maerakaca, layanan MICE, hingga pusat pelatihan pariwisata Jateng Tourism Training Center (JTTC). Meski pendapatan operasional diklaim stabil, manajemen belum bersedia membeberkan angka pendapatan tahunan secara rinci dengan alasan memerlukan peninjauan lebih lanjut terhadap pembukuan perusahaan.