Memasuki tahun ajaran baru seharusnya menjadi momen yang menggembirakan bagi siswa dan orang tua. Namun, realitas di lapangan kerap berbanding terbalik, di mana institusi pendidikan justru sering kali terjebak dalam praktik bisnis penjualan seragam dengan harga yang melampaui standar pasar.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Cakra secara tegas menyoroti fenomena ini sebagai langkah yang mencederai marwah pendidikan. Praktik yang sering kali berlindung di balik kedok koperasi sekolah atau kesepakatan komite tersebut dianggap telah menyimpang dari esensi pendidikan sebagai ruang egaliter dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Beban finansial yang dipaksakan kepada orang tua berpotensi menciptakan tekanan psikologis bagi siswa. Ketika orang tua kesulitan memenuhi kebutuhan seragam yang mahal, siswa sering kali merasa terbebani secara mental sebelum proses belajar-mengajar dimulai. Kondisi ini secara langsung merusak tujuan utama sekolah dalam menciptakan lingkungan yang suportif dan setara bagi perkembangan anak.

Lebih lanjut, komersialisasi seragam merupakan ancaman nyata terhadap hak konstitusional warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Pembatasan akses pendidikan melalui syarat pembelian seragam tertentu dapat dikategorikan sebagai bentuk diskriminasi terselubung yang menghalangi siswa dari keluarga kurang mampu untuk menuntut ilmu dengan rasa percaya diri.

Untuk mengatasi persoalan ini, LBH Cakra mendesak otoritas terkait, termasuk Dinas Pendidikan, untuk mengambil tindakan konkret. Langkah yang diperlukan meliputi penerapan sanksi tegas bagi pihak sekolah yang terbukti melakukan monopoli penjualan, memberikan keleluasaan bagi orang tua untuk menyediakan seragam secara mandiri, serta mengalihkan fokus sekolah kembali ke peningkatan mutu pembelajaran.

Sudah saatnya ekosistem pendidikan dibebaskan dari praktik komersialisasi yang merugikan. Mengembalikan sekolah sebagai ruang yang ramah dan memerdekakan adalah kewajiban bersama agar masa depan generasi muda tidak terhambat oleh urusan pemenuhan atribut pakaian yang membebani dompet orang tua.