Gejolak geopolitik di Timur Tengah akibat meningkatnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai menekan pasar keuangan global. Pada perdagangan Kamis (16/7/2026), mayoritas bursa saham Asia berguguran di zona merah, dipicu oleh aksi jual massal pada saham-saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Di sisi lain, harga minyak mentah dunia bergerak sedikit melemah namun tetap tertahan di level tinggi akibat kekhawatiran gangguan rantai pasok energi global.
Koreksi terdalam dialami oleh bursa Korea Selatan, di mana indeks Kospi anjlok signifikan sebesar 6,6 persen ke level 6.816,70. Pelemahan ini diperparah oleh langkah Bank of Korea yang menaikkan suku bunga acuan demi meredam tekanan inflasi imbas konflik Timur Tengah. Saham raksasa semikonduktor SK Hynix dan Samsung Electronics masing-masing merosot tajam sebesar 11,2 persen dan 8,2 persen. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan juga terkoreksi tipis 0,3 persen menjelang rilis laporan keuangan produsen cip global, TSMC.
Sentimen negatif ini turut menjalar ke bursa Jepang, dengan indeks Nikkei 225 yang tergelincir 2,9 persen hingga menyentuh posisi 66.767,64. Saham produsen memori Kioxia ambruk hingga 13,5 persen, disusul oleh Tokyo Electron yang melemah 5,2 persen serta raksasa investasi SoftBank Group yang merosot 6,4 persen.
Berseberangan dengan tren pelemahan regional, indeks Hang Seng Hong Kong justru berhasil menguat 1,7 persen ke level 25.111,22. Lonjakan ini ditopang oleh apresiasi saham Alibaba sebesar 4,4 persen, menyusul persetujuan regulator China terhadap penggunaan fitur Apple Intelligence yang akan mengintegrasikan model AI Qwen milik Alibaba.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun tipis 0,4 persen menjadi USD84,55 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,2 persen ke level USD79,34 per barel. Analis komoditas memperingatkan bahwa harga minyak masih rawan melonjak karena ketegangan bersenjata ini mulai mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dunia.
Kondisi di Asia kontras dengan bursa Wall Street yang pada penutupan sebelumnya justru menguat berkat laporan laba kuartalan emiten besar yang melampaui estimasi pasar. Sementara di pasar valuta asing, mata uang dolar AS terpantau melemah tipis terhadap yen Jepang ke kisaran 162,09 yen.