Transformasi digital yang kian masif memaksa dunia korporasi untuk merombak total fungsi manajemen strategis mereka. Dalam diskusi daring MAW Talkshow ke-73 yang bertajuk "Public Relations: From Reputation to Business Impact", para praktisi komunikasi menegaskan bahwa peran hubungan masyarakat (humas) kini telah bergeser dari sekadar penyampai informasi menjadi salah satu pilar penentu kebijakan bisnis perusahaan.
Head of Corporate Communication PT Garuda Indonesia, Dicky Irchamsyah, mengungkapkan bahwa keputusan bisnis modern sangat dipengaruhi oleh sentimen di dunia maya. Menurutnya, praktisi humas masa kini harus mampu menyajikan dampak nyata dari strategi komunikasi terhadap performa bisnis. Dicky mencontohkan saat Garuda Indonesia menghadapi proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada tahun 2022, di mana komunikasi publik yang steril dari bias menjadi kunci dalam negosiasi dengan ratusan kreditur.
Sementara itu, Deputy Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold, Indriani Siswati, menyoroti pentingnya komunikasi transparan untuk memitigasi risiko industri. Di sektor pertambangan, penyampaian komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terbuka sangat krusial untuk mengamankan izin sosial dari masyarakat atau Social License to Operate. Keberhasilan menjaga reputasi ini dinilai memberikan kepastian bagi keberlangsungan investasi jangka panjang.
Di sisi lain, Head of Corporate Communications PT Taspen, Rizky Bachrudin, menambahkan bahwa komunikasi yang presisi dapat meminimalkan salah tafsir publik terhadap produk perusahaan negara. Para praktisi ini sepakat bahwa meskipun data analitik tersedia melimpah, peran humas dalam menerjemahkan data tersebut tetap menjadi faktor krusial untuk menghasilkan strategi pencegahan krisis yang senyap, tepat, dan menguntungkan.