Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 secara resmi mengusulkan agar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 memberikan panggung bagi berbagai cabang olahraga tradisional rakyat. Langkah ini dinilai krusial sebagai upaya konkret dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya nusantara sekaligus memperkuat identitas kebangsaan di tengah gempuran modernisasi yang kian masif.

Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib olahraga tradisional yang kian terpinggirkan dari perhatian generasi muda. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang melimpah dari Sabang hingga Merauke, namun minim ruang aktualisasi. Ia menyarankan agar otoritas terkait memasukkan permainan rakyat tersebut, setidaknya dalam kategori eksebisi, guna membuka pintu pengenalan bagi masyarakat luas.

Lebih dari sekadar ajang kompetisi fisik, olahraga tradisional dianggap menyimpan nilai luhur seperti semangat gotong royong, sportivitas, dan kedekatan dengan lingkungan. Pria yang akrab disapa Didu ini menegaskan bahwa PON memiliki peran strategis sebagai etalase budaya, di mana setiap provinsi dapat menampilkan ciri khas daerahnya kepada khalayak nasional.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Mi6 mendorong sinergi antara KONI, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta pemerintah daerah dalam melakukan inventarisasi dan standardisasi aturan permainan. Tahapan ini penting agar olahraga rakyat memiliki sistem penilaian yang terukur dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan, bahkan berpotensi menjadi cabang resmi di masa depan.

Selain keterlibatan dalam perhelatan nasional, Mi6 juga menekankan pentingnya regenerasi di tingkat akar rumput melalui sekolah dan komunitas. Didu menutup dengan harapan bahwa kebijakan ini dapat menjadi momentum strategis bagi pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan antara orientasi prestasi olahraga modern dan pelestarian akar peradaban bangsa agar tidak lekang oleh zaman.