Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda kawasan Pegunungan Anjasmoro, tepatnya di lereng Gunung Biru, Kabupaten Mojokerto. Cuaca panas ekstrem dan minimnya curah hujan diduga memicu api cepat meluas di medan yang memiliki tingkat kecuraman tinggi tersebut.
Titik api pertama kali terdeteksi di Blok Tempuran, yang masuk dalam wilayah Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengonfirmasi bahwa lokasi kebakaran berada di area perbukitan yang sangat terjal dan dikelilingi jurang mendalam, sehingga menyulitkan proses pemadaman manual secara cepat.
Kebakaran yang berlokasi di perbatasan Desa Gumeng dan Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang ini terlihat jelas dari kejauhan melalui kepulan asap yang membubung tinggi. Petugas mengidentifikasi adanya dua titik api terpisah yang jaraknya cukup berjauhan, mengindikasikan luasan lahan yang terdampak terus bertambah.
Guna mengatasi situasi tersebut, pihak Tahura Raden Soerjo telah mengerahkan empat regu pemadam kebakaran hutan ke lokasi kejadian. Selain itu, satu tim khusus ditempatkan di puncak Bukit Cendono untuk memantau pergerakan api serta memetakan rute evakuasi dan penanganan yang paling aman bagi personel di lapangan.
Upaya pemadaman ini juga melibatkan koordinasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, BPBD Provinsi Jawa Timur, serta aparat kepolisian setempat. Sinergi ini dilakukan mengingat kondisi cuaca kering di Mojokerto saat ini berkisar antara 32 hingga 35 derajat Celsius, yang membuat vegetasi semak belukar sangat mudah terbakar dan mempercepat perambatan api.
Sebagai puncak tertinggi di gugusan Pegunungan Anjasmoro dengan ketinggian 2.331 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Biru merupakan kawasan konservasi penting penyangga ekosistem di Jawa Timur. Hingga kini, petugas gabungan masih terus bersiaga dan berupaya melokalisasi api agar tidak merembet ke zona inti hutan lindung yang lebih luas.