Laju inflasi di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren peningkatan signifikan pada Juni 2026. Data terbaru mencatat inflasi tahunan berada di level 3,20% secara tahunan (year on year), sementara inflasi bulanan tercatat sebesar 0,70%. Meski mengalami kenaikan, Bank Indonesia menyatakan bahwa angka tersebut masih berada dalam koridor target nasional yang ditetapkan.

Sektor transportasi menjadi kontributor utama atas lonjakan inflasi ini. Kenaikan harga BBM nonsubsidi serta tingginya tarif angkutan udara, yang dipengaruhi oleh tingginya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah, memberikan dampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Selain itu, faktor cuaca ekstrem di daerah produsen turut mengganggu pasokan komoditas pangan krusial seperti bawang merah, beras, dan ikan layang.

Dampak kenaikan harga ini merata di seluruh wilayah Kaltim, dengan Balikpapan mencatatkan inflasi bulanan tertinggi mencapai 0,86%, disusul oleh Samarinda sebesar 0,72%. Kendati demikian, tekanan inflasi sempat tertahan oleh penurunan harga pada komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan beberapa jenis sayuran yang menjadi penyeimbang di pasar.

Dalam merespons kondisi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim memperkuat implementasi strategi 4K yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Berbagai upaya konkret seperti operasi pasar murah, distribusi beras SPHP, hingga koordinasi lintas wilayah terus diintensifkan guna menjamin stabilitas harga pangan dan menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali.