Samsung Electronics Co. kini berada di pusat perhatian investor global menyusul proyeksi laporan keuangan kuartalan yang akan diumumkan pada Selasa mendatang. Di tengah gejolak pasar saham semikonduktor yang sempat mengalami koreksi tajam sepanjang Juni, perusahaan asal Korea Selatan ini diprediksi mampu mencatatkan laba operasional mencapai 84,3 triliun won atau sekitar Rp989 triliun.
Angka fantastis tersebut menandai lonjakan hingga 18 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Para analis yang dihimpun oleh Bloomberg memperkirakan pendapatan perusahaan juga akan menyentuh rekor tertinggi di angka 169 triliun won, sebuah pencapaian yang melampaui total laba perusahaan selama satu tahun penuh pada 2025.
Pasar saat ini tengah menanti pembuktian Samsung di tengah kekhawatiran mengenai potensi kelebihan kapasitas dan persaingan ketat di sektor kecerdasan buatan (AI). CEO Roundhill Financial, Dave Mazza, mengungkapkan bahwa laporan keuangan ini akan menjadi titik penentu perdebatan investor mengenai prospek permintaan chip memori di masa depan, terutama di tengah munculnya keraguan dari perusahaan besar seperti Meta dan Apple terkait rantai pasokan.
Permintaan yang masif terhadap chip memori berkinerja tinggi—yang menjadi komponen vital bagi pengembangan model AI seperti ChatGPT dan Claude—telah menciptakan kelangkaan pasokan secara global. Kondisi ini secara langsung mendongkrak harga jual produk, sehingga memberikan margin keuntungan yang substansial bagi produsen besar seperti Samsung dan rival utamanya, SK Hynix Inc.