Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Komplek Gunung Biru, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, hingga kini masih terus diupayakan penanganannya. Petugas gabungan dari berbagai instansi lintas sektoral dikerahkan ke lokasi untuk memantau situasi dan mencegah kobaran api merembet ke area yang lebih luas.
Meski demikian, operasi pemadaman di lapangan menemui kendala geografis yang cukup berat. Karakteristik medan pegunungan yang sangat curam dan terjal membuat tim gabungan belum mampu mengakses langsung empat titik api yang terdeteksi di kawasan konservasi tersebut.
Berdasarkan data di lapangan, titik-titik api tersebut teridentifikasi berada di Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06, yang secara administratif masuk dalam wilayah Desa Gumeng dan Desa Begaganlimo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Area hutan tersebut berada di bawah naungan UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo.
Guna mengoordinasikan langkah taktis penanggulangan, petugas telah mendirikan posko darurat di jalur pendakian Bukit Cendono. Posko ini berfungsi sebagai pusat komunikasi terpadu bagi personel UPT Tahura R Soerjo, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, serta relawan yang bersiaga di lapangan.
Sementara itu, Kepolisian Resor (Polres) Mojokerto turut memperkuat armada penanganan dengan menerjunkan sedikitnya 10 personel dari Satuan Samapta. Kasat Samapta Polres Mojokerto, AKP Joedjono Wihandoko, menegaskan bahwa pihaknya terus menjalin sinergi erat dengan seluruh instansi terkait guna mengantisipasi eskalasi bencana karhutla ini agar tidak meluas.