Menyikapi fluktuasi aktivitas vulkanik pada Gunung Anak Krakatau yang kembali menunjukkan tanda-tanda erupsi, Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menekankan urgensi penerapan mitigasi bencana yang lebih terukur. Langkah ini dinilai krusial untuk melindungi masyarakat yang berada di kawasan pesisir terdampak dari potensi bahaya erupsi maupun ancaman sekunder seperti tsunami.

Dr. Daryono, pakar dari IABI, menegaskan bahwa pemerintah perlu segera memperbarui protokol kesiapsiagaan di lapangan. Mitigasi praktis yang dimaksud mencakup penguatan sistem peringatan dini yang terintegrasi, edukasi rutin bagi warga sekitar mengenai jalur evakuasi, serta penyediaan fasilitas tempat perlindungan yang memadai sesuai dengan radius aman yang telah ditentukan oleh otoritas vulkanologi.

Lebih lanjut, koordinasi antar instansi terkait diharapkan dapat berjalan lebih intensif dan transparan. Langkah preventif ini diharapkan bukan sekadar respons reaktif terhadap letusan, melainkan upaya sistematis untuk menciptakan ketahanan masyarakat menghadapi dinamika geologis di Selat Sunda yang memang memiliki karakteristik aktivitas vulkanik tinggi.

Hingga saat ini, pemantauan terhadap Anak Krakatau terus dilakukan secara ketat oleh pihak berwenang. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta senantiasa memantau informasi resmi dari pusat vulkanologi dan tidak terpancing oleh narasi yang belum terverifikasi kebenarannya.