Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus mengintensifkan berbagai langkah strategis guna menggenjot produksi minyak dan gas bumi nasional. Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa perusahaan kini berfokus pada pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) melalui eksplorasi di sumur Gulamo dan sumur Kelok. Inisiatif ini menjadi krusial untuk mengimbangi penurunan produksi alamiah (natural decline) yang kerap terjadi pada sumur-sumur minyak tua.
Selain eksplorasi baru, PHR juga menerapkan teknik Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) dengan produk dalam negeri. Teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak volume produksi hingga 20 persen. Sejak diimplementasikan di lapangan Minas pada 2025, injeksi tersebut telah berhasil memberikan tambahan produksi sebesar 2.800 barel minyak per hari (BOPD), dengan target ambisius mencapai 70.000 BOPD pada tahun 2028.
Dari sisi operasional, PHR telah melakukan transformasi digital melalui Digital Innovation Center (DAS). Fasilitas canggih ini memungkinkan pemantauan terpusat terhadap seluruh aktivitas migas yang melibatkan 44 ribu tenaga kerja di 17 kabupaten di Riau. Melalui sistem ini, efisiensi dan keamanan operasional dapat dikelola dengan lebih presisi.
Di samping fokus pada peningkatan produksi, PHR tetap memegang teguh komitmen terhadap transisi energi dan swasembada energi nasional. Perusahaan mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam setiap lini operasinya, termasuk langkah konkret dalam menekan emisi karbon CO2 sebagai wujud tanggung jawab lingkungan dalam industri hulu migas.