Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengambil langkah strategis dengan memperkuat pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren. Upaya ini dirancang untuk membentengi karakter santri, menjaga kesehatan fisik mereka, sekaligus menjadi langkah preventif terhadap ancaman kekerasan seksual di lembaga pendidikan keagamaan.

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Kerakyatan, Alissa Qatrunnada Wahid, menjelaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis untuk program ini. Lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan formal keagamaan, tetapi juga berperan aktif sebagai ruang pengasuhan bagi para santri sehari-hari.

Menurut Alissa, remaja saat ini sangat rentan terpapar informasi seksualitas yang tidak akurat dari berbagai media tanpa penyaringan yang tepat. Oleh sebab itu, pembekalan edukasi kesehatan reproduksi yang benar menjadi krusial agar para santri memiliki pemahaman yang utuh dan mampu mengambil keputusan terbaik bagi diri mereka sendiri.

Implementasi program ini salah satunya diwujudkan melalui Halaqah Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pesantren yang digelar oleh Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) di Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Pasuruan, Jawa Timur. Forum ini mempertemukan para pengasuh pesantren untuk menyusun serta mensosialisasikan modul pembelajaran khusus yang disesuaikan dengan nilai-nilai pesantren.

Tidak sekadar diskusi, program jangka panjang ini akan dilanjutkan dengan pelatihan bagi para pendidik (Training of Trainers) untuk ustaz dan ustazah, serta pembentukan sistem pendidik sebaya di kalangan santri. Selain itu, para pengasuh muda seperti gus dan ning didorong untuk aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi digital.

Kebutuhan akan edukasi kesehatan ini makin mendesak seiring dengan temuan Kementerian Kesehatan yang menunjukkan tingginya masalah kesehatan remaja. Data Program Cek Kesehatan Gratis Sekolah mencatat sekitar 30 persen siswa kelas 7 dan 10 terdiagnosis mengalami anemia, yang sering kali diperparah oleh pola makan salah akibat persepsi bentuk tubuh yang keliru.