Indonesia dan Australia secara resmi meluncurkan fase kedua dari program Katalis pada Senin (13/7) di Jakarta. Langkah strategis di bawah kerangka Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) ini bertujuan untuk mengakselerasi pertumbuhan perdagangan serta investasi antara kedua negara melalui dukungan pendanaan sebesar AUD 40 juta dari pemerintah Australia.

Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, menegaskan bahwa dana tersebut disiapkan untuk memperluas cakupan peluang bisnis yang sebelumnya telah dirintis pada program Katalis 1.0. Fokus utama fase ini adalah inklusivitas, dengan memberikan ruang lebih luas bagi usaha kecil dan menengah (UKM), bisnis yang dipimpin perempuan, serta kelompok pelaku usaha yang sebelumnya minim akses untuk terlibat dalam ekosistem perdagangan bilateral.

Selain dukungan finansial, pemerintah Australia berkomitmen memangkas hambatan perdagangan serta mempermudah mobilitas tenaga kerja dan pelaku bisnis Indonesia. Inisiatif ini diharapkan mampu memicu inovasi, pengembangan keterampilan, dan kemitraan konkret yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat di kedua negara.

Menanggapi peluncuran tersebut, Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyoroti keberhasilan IA-CEPA sejak diimplementasikan pada tahun 2020. Data menunjukkan tren positif yang signifikan, di mana nilai perdagangan barang meningkat dari USD 7,2 miliar pada tahun 2020 menjadi sekitar USD 13 miliar pada tahun 2025, dengan rata-rata kenaikan tahunan mencapai 10,68 persen.

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, kedua negara kini tengah melakukan peninjauan umum terhadap IA-CEPA guna memastikan perjanjian tersebut tetap adaptif terhadap dinamika ekonomi global, termasuk transformasi digital dan perubahan rantai pasok. Proses ini menjadi landasan bagi Indonesia dan Australia dalam memetakan sektor-sektor prioritas yang akan diperkuat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan.