Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan klarifikasi terkait fluktuasi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Petugas pengamat di pos pemantauan, Anggi Nuryo Saputro, menegaskan bahwa status gunung berapi aktif tersebut belum pernah menyentuh Level IV atau status Awas selama masa pemantauannya.
Anggi merujuk pada catatan sejarah saat tsunami melanda Selat Sunda pada akhir 2018. Meskipun saat itu terjadi bencana besar akibat runtuhnya sekitar 60 persen tubuh gunung, status aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tercatat tetap berada pada Level III atau Siaga.
Lebih lanjut, pihak PVMBG menyoroti perbedaan profil fisik gunung saat ini dibandingkan dengan tahun 2018. Pasca-runtuhan besar yang memangkas ketinggian gunung dari 338 meter menjadi 157 meter di atas permukaan laut (mdpl), potensi ancaman tsunami dinilai tidak lagi seberat kondisi masa lalu.
Berdasarkan kajian para ahli, perubahan bentuk fisik yang drastis tersebut menjadi faktor kunci yang membedakan tingkat risiko tsunami saat ini. Meskipun demikian, pihak pengamat tetap waspada mengingat aktivitas erupsi yang masih bersifat fluktuatif dari waktu ke waktu.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan pada Level III (Siaga). Petugas mencatat bahwa intensitas letusan sangat dinamis, di mana pada beberapa hari sebelumnya sempat terjadi tujuh kali erupsi, namun untuk hari ini terpantau belum ada aktivitas letusan signifikan.