Menapaki usia ke-80, Pasukan Keamanan Rakyat mempertegas posisinya sebagai pilar utama dalam menjaga keamanan nasional. Dalam sebuah seminar strategis yang dihadiri oleh jajaran petinggi negara, Menteri Keamanan Publik, Jenderal Luong Tam Quang, menekankan bahwa sejak kelahirannya, pasukan ini memiliki misi historis untuk melindungi Partai, pemerintah, dan rakyat dari berbagai ancaman internal maupun eksternal.

Sejarah mencatat keberhasilan krusial pada 12 Juli 1946 dalam menggagalkan upaya kudeta terhadap pemerintahan revolusioner sebagai tonggak keberanian korps. Peristiwa tersebut kini diabadikan sebagai Hari Tradisional Pasukan Keamanan Rakyat, yang setiap tahunnya diperingati untuk mengenang dedikasi mereka sebagai 'pedang tajam' dan 'perisai baja' bagi negara.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Departemen Propaganda dan Mobilisasi Massa Pusat, Trinh Van Quyet, menguraikan tiga nilai strategis yang menjadi fondasi kekuatan pasukan. Pertama, kemampuan deteksi dini yang proaktif, di mana setiap risiko diidentifikasi sebelum berkembang menjadi ancaman. Kedua, sinergi mendalam dengan instansi pemerintah dalam memperkuat kebijakan keamanan. Ketiga, peran vital dalam menjaga kedamaian yang menjadi prasyarat utama bagi keberlangsungan pembangunan nasional.

Lebih dari sekadar kekuatan bersenjata, nilai utama pasukan ini terletak pada loyalitas mutlak dan ikatan yang tidak terpisahkan dengan rakyat. Kekuatan ini dinilai sebagai 'benang merah' yang menjaga orientasi institusi tetap teguh di tengah perubahan zaman dan tantangan global yang semakin kompleks.

Menyongsong era pembangunan baru, pasukan keamanan kini didorong untuk mengadopsi pendekatan 'keamanan proaktif' dan 'keamanan konstruktif'. Hal ini mencakup penguatan disiplin internal, adopsi teknologi mutakhir, serta transformasi digital guna memastikan stabilitas bangsa dapat terjaga dengan lebih presisi, sesuai dengan target strategis Kongres Partai ke-14.