Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah dalam dinamika politik kebangsaan bukanlah hal baru. Menurutnya, peran organisasi ini sudah terlihat jelas atau dalam istilah Jawa disebut sebagai cetho welo-welo sejak awal pendiriannya hingga proses menuju kemerdekaan Indonesia.

Dalam sebuah pengajian internal, Busyro memaparkan sejumlah figur sentral Muhammadiyah, seperti KH Ahmad Dahlan, Jenderal Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, Ahmad Muzakkir, hingga Kasman Singodimedjo. Para tokoh ini tidak hanya bergerak di ranah dakwah dan sosial, tetapi juga menjadi arsitek penting dalam perjalanan politik nasional, termasuk keterlibatan mereka dalam perumusan dasar negara bersama Presiden Soekarno.

Busyro menyebut Ki Bagus Hadikusumo, Ahmad Muzakkir, dan Kasman Singodimedjo sebagai tiga pendekar politik Muhammadiyah yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Baginya, keterlibatan mereka membuktikan bahwa Muhammadiyah memiliki posisi strategis dan konsisten dalam mengawal kedaulatan serta pembangunan negara.

Selain menyoroti rekam jejak historis, Busyro menekankan bahwa fondasi utama dalam berorganisasi maupun bernegara adalah akhlak. Ia meyakini bahwa kualitas moral individu akan berdampak pada harmonisasi keluarga yang pada gilirannya menciptakan tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang lebih sehat dan berintegritas.

Mengakhiri pesannya, Busyro mengingatkan agar setiap warga Muhammadiyah menjauhi sikap kikir dan serakah yang dianggap sebagai sumber malapetaka. Sebagai gantinya, ia mengajak untuk senantiasa menumbuhkan rasa syukur demi mencapai kesejahteraan bersama, baik di tingkat pribadi maupun skala berbangsa dan bernegara.