Pemerintah Kota Banda Aceh resmi memulai langkah penataan kawasan eks Terminal Keudah guna mengoptimalkan potensi lahan strategis di pusat kota tersebut. Langkah awal ini difokuskan pada pembersihan lahan agar kawasan tersebut lebih representatif dan memiliki daya tarik tinggi bagi calon investor.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh, Syaifuddin Ambia, menjelaskan bahwa perencanaan untuk kawasan ini sebenarnya telah digagas sejak tahun 2015 dengan konsep tata guna lahan terpadu (mixed land use). Berdasarkan rencana awal, area seluas 11.717 meter persegi ini diproyeksikan memiliki gedung tujuh lantai, mencakup terminal di dua lantai bawah tanah serta pusat perbelanjaan dan hotel di lantai atas.

Selain menjadi pusat bisnis, lokasi ini juga dirancang sebagai hub transportasi terpadu. Nantinya, eks Terminal Keudah akan berfungsi sebagai titik transit utama bagi angkutan umum serta layanan pengumpan (feeder) guna mendukung kelancaran mobilitas warga di berbagai penjuru Kota Banda Aceh.

Sembari menunggu mitra investasi yang tepat untuk merealisasikan rencana jangka panjang tersebut, Pemko Banda Aceh akan memagari kawasan ini dan mengalihkannya sementara menjadi ruang terbuka publik (open space). Area terbuka tersebut nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan kreatif dan usaha mikro yang berdampak langsung pada perekonomian lokal.

Ambia menambahkan bahwa eks Terminal Keudah memiliki nilai investasi yang sangat tinggi karena posisinya yang sangat strategis. Kawasan ini berhadapan langsung dengan keindahan Krueng Aceh, berada dekat dengan Masjid Raya Baiturrahman, serta terhubung erat dengan pusat perdagangan Peunayong, menjadikannya prospek emas bagi perkembangan tata kota masa depan.