Langkah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dalam melakukan safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini menjadi sorotan tajam para pengamat politik. Aksi ini dinilai bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan strategi terukur untuk mengonsolidasi kekuatan partai yang kini berada di luar parlemen tersebut.

Analis dari Paramadina Public Policy Institute, Wahyutama, menyatakan bahwa upaya Jokowi dalam membesarkan PSI merupakan langkah yang pragmatis. Sebagai partai pendatang baru yang belum berhasil menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2024 dengan perolehan suara 2,8%, PSI memang membutuhkan dukungan figur dengan elektabilitas tinggi untuk memperkuat posisi tawarnya di hadapan publik.

Selain kepentingan elektoral partai, manuver Jokowi ini juga dikaitkan dengan dinamika politik yang melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Wahyutama menyoroti adanya sinyal kekhawatiran dari kekuatan politik lain, termasuk instruksi internal di tubuh Partai Gerindra, untuk memantau pergerakan Gibran dan PSI di tingkat daerah.

Secara strategis, kolaborasi ini dipandang sebagai upaya Jokowi untuk memastikan keberlanjutan pengaruh politiknya melalui saluran partai yang lebih fleksibel. Dengan terus mendampingi PSI, Jokowi tidak hanya menjaga eksistensi partai tersebut, tetapi juga memproteksi kepentingan politik jangka panjang putra sulungnya di tengah peta koalisi yang terus bergerak.