Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan mengalami peningkatan intensitas secara drastis sepanjang sepekan terakhir. Rentetan erupsi yang terjadi sejak 2 Juli hingga 5 Juli 2026 telah memaksa pihak berwenang meningkatkan status gunung api tersebut dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Data dari Pos Pengamatan Gunung Api menunjukkan bahwa erupsi berturut-turut tersebut melontarkan abu dan material vulkanik setinggi 10 hingga 200 meter dari puncak. Selain fenomena visual, sensor seismik juga merekam adanya peningkatan aktivitas gempa tremor menerus dengan amplitudo maksimum mencapai 23 milimeter, yang mengindikasikan adanya gejolak magmatik di dalam perut gunung.

Sebagai bentuk langkah antisipasi, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lampung Selatan kini bersiaga penuh di Pos Pengamatan Desa Hargo Pancuran. Langkah ini bertujuan untuk memastikan koordinasi mitigasi berjalan cepat, terutama dalam penyusunan rencana evakuasi bagi masyarakat yang bermukim di pesisir jika kondisi memburuk.

Kabid Damkarmat Lampung Selatan, Rully Fikriansyah, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh berbagai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ia menekankan pentingnya merujuk pada kanal informasi resmi terkait perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menjelaskan bahwa meski rangkaian erupsi saat ini merupakan bagian dari fase aktivitas vulkanik, tingkat kewaspadaan harus tetap maksimal. Otoritas pun mengeluarkan peringatan tegas agar wisatawan maupun nelayan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 3 kilometer dari kawah, guna menghindari risiko lontaran material panas dan ancaman gas beracun.