Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kini berada pada Level III atau Siaga, tidak serta merta menyurutkan langkah para nelayan di pesisir Lampung untuk mengais rezeki. Sebagian besar pelaku usaha perikanan di wilayah tersebut memilih tetap melaut, namun dengan kewaspadaan ekstra terhadap radius bahaya yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.
Edi Muhtadi, seorang nelayan asal Pulau Pasaran, menuturkan bahwa imbauan pemerintah dipahami sebagai upaya preventif demi keselamatan jiwa. Meski demikian, kebutuhan ekonomi memaksa mereka untuk tetap beroperasi. Para nelayan umumnya akan menghindar secara otomatis jika terlihat tanda-tanda erupsi atau aktivitas vulkanik yang meningkat secara signifikan di sekitar kawah gunung.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lampung Selatan, Yudi, menegaskan bahwa aktivitas nelayan masih dalam koridor aman. Sebagian besar nelayan kini memusatkan lokasi tangkapan di perairan sekitar Kalianda hingga Pulau Sebuku, yang secara geografis berada pada jarak cukup jauh dari zona terlarang Gunung Anak Krakatau.
Meskipun aktivitas melaut tetap berlangsung normal, Yudi mengakui bahwa terdapat tantangan ekonomi lain yang dihadapi para nelayan. Saat ini, hasil tangkapan mengalami penurunan drastis hingga mencapai 75 persen. Meski demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh aktivitas vulkanik, melainkan faktor siklus alam seperti fase terang bulan yang turut memengaruhi pergerakan ikan di laut.
Pihak HNSI terus menekankan kepada seluruh anggota agar tetap memprioritaskan keselamatan di atas hasil tangkapan. Sinergi antara kepatuhan nelayan terhadap radius aman dan pengawasan dari pemerintah diharapkan dapat menjaga keselamatan para pekerja laut sembari tetap menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka di tengah fluktuasi aktivitas Gunung Anak Krakatau.