Memasuki semester kedua tahun ini, banyak anak muda mulai melirik peluang bisnis sampingan sebagai solusi atas stagnasi pendapatan dan meningkatnya biaya hidup. Para pakar kewirausahaan menyarankan agar generasi muda tidak sekadar mengikuti tren, melainkan lebih jeli dalam memetakan kebutuhan pasar yang spesifik dan praktis.
Dosen kewirausahaan Le Hung Sang menekankan bahwa keunggulan kompetitif saat ini terletak pada kemampuan memecahkan masalah keseharian. Layanan seperti pengasuhan hewan peliharaan, pengelolaan media sosial bagi pelaku UMKM, hingga jasa penata rumah menjadi opsi bisnis dengan modal rendah namun memiliki permintaan pasar yang tinggi.
Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai peluang emas yang belum banyak digarap secara optimal. Ahli kewirausahaan inovatif, Nguyen Thi Hai Nhu, menyarankan kaum muda untuk menawarkan layanan profesional berbasis AI, seperti desain konten visual, pembuatan video kreatif, hingga pengembangan chatbot sederhana untuk membantu operasional bisnis kecil.
Bagi mereka yang tertarik pada sektor produk, konsultan bisnis Lam Thi Minh Hai menyarankan pendekatan berbasis momen musiman. Memasuki bulan-bulan terakhir tahun ini, permintaan pasar akan perlengkapan sekolah, dekorasi perayaan seperti Festival Pertengahan Musim Gugur, Natal, hingga kebutuhan pernikahan meningkat tajam. Produk personalisasi dengan nilai unik sering kali lebih diminati dibandingkan barang-barang umum yang dijual secara massal.
Namun, para ahli tetap memberikan catatan penting terkait manajemen risiko. Kesalahan fatal yang sering dilakukan pemula adalah melakukan investasi besar di awal tanpa pengujian pasar yang matang. Strategi yang disarankan adalah memulai dalam skala kecil melalui platform digital, mengevaluasi respons konsumen, dan secara bertahap memperluas operasional untuk menghindari tekanan finansial yang tidak perlu.