Paparan timbal yang berlangsung terus-menerus di lingkungan kerja kini dipandang sebagai ancaman kesehatan yang lebih luas daripada sekadar kerusakan organ target konvensional. Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr. dr. Ade Mutiara, mengungkapkan bahwa kontaminasi logam berat ini berpotensi memicu gangguan metabolik serius, termasuk peningkatan risiko diabetes melitus pada kelompok pekerja rentan.
Temuan ini merupakan hasil dari disertasi doktoral yang secara mendalam mengkaji korelasi antara kadar timbal dalam darah dengan kesehatan metabolik. Studi tersebut difokuskan pada pekerja di sektor industri yang memiliki risiko tinggi terpapar polutan, seperti peleburan logam, pengelasan, pertambangan, hingga daur ulang aki bekas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja dengan kadar timbal dalam darah melampaui ambang batas 30 µg/dL memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap peningkatan kadar glukosa darah puasa. Secara medis, hal ini disebabkan oleh stres oksidatif yang dipicu oleh paparan timbal kronis. Akumulasi radikal bebas di dalam tubuh dapat merusak fungsi seluler, yang pada akhirnya mengganggu jalur kerja hormon insulin dan menyebabkan resistensi insulin.
Selain faktor lingkungan, penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa variasi genetik pada reseptor vitamin D memainkan peran krusial dalam menentukan seberapa rentan seseorang terhadap dampak buruk timbal. Faktor genetik ini menjadi salah satu penentu ketahanan biologis individu saat berhadapan dengan paparan racun di tempat kerja.
Sebagai langkah mitigasi, para ahli menekankan pentingnya intervensi nutrisi bagi pekerja. Pemenuhan mikronutrien seperti zink, kalsium, dan vitamin D, serta asupan protein yang memadai, dinilai mampu membantu tubuh dalam mereduksi kerusakan biologis akibat racun timbal. Strategi preventif berbasis nutrisi ini diharapkan dapat menjadi tameng pelindung bagi pekerja guna menekan prevalensi penyakit metabolik di masa depan.