Sejumlah pelaku usaha rintisan (startup) dan perusahaan eksportir di Kota Ho Chi Minh masih menghadapi tantangan serius dalam memperoleh akses permodalan dari lembaga perbankan. Keluhan ini mengemuka dalam dialog strategis bertajuk 'Konferensi Dialog Bisnis-Pemerintah Kota' yang melibatkan perwakilan Bank Negara Vietnam serta otoritas perdagangan setempat.
Le Anh Hoang, Wakil Direktur Pusat Promosi Perdagangan dan Investasi Kota Ho Chi Minh (ITPC), menegaskan bahwa dialog ini merupakan upaya pemerintah untuk memetakan hambatan riil di lapangan. Meski telah ada berbagai kebijakan insentif, sektor swasta melaporkan bahwa persyaratan jaminan yang berat, prosedur administratif yang kompleks, serta kriteria suku bunga masih menjadi penghalang utama bagi operasional dan ekspansi bisnis mereka.
Sejumlah pelaku usaha, seperti pemilik perusahaan budidaya sukun dan pengolah pangan organik, mengungkapkan dilema yang mereka alami. Meski telah mengantongi kontrak ekspor internasional dan memiliki prospek profitabilitas yang terukur, mereka kerap terganjal oleh ketiadaan aset jaminan tradisional serta riwayat laporan keuangan jangka panjang yang dipersyaratkan oleh bank konvensional.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak perbankan melalui perwakilan HDBank menyatakan bahwa jaminan bukanlah satu-satunya parameter penentu dalam pemberian kredit. Bank kini mulai bergeser ke arah penilaian efektivitas rencana bisnis dan kredibilitas mitra usaha (off-taker) sebagai dasar pertimbangan. Bisnis yang mampu menunjukkan kepastian pasar dan kontrak dengan korporasi besar dinilai memiliki peluang lebih baik untuk mengakses pendanaan.
Menutup sesi dialog, perwakilan Bank Negara Vietnam Cabang Wilayah 2 berkomitmen untuk meningkatkan layanan respons cepat dalam menangani keluhan pelaku usaha. Pihak otoritas moneter mendorong lembaga kredit untuk lebih proaktif dalam mendampingi sektor usaha serta menyediakan konsultasi keuangan yang lebih relevan dengan kebutuhan spesifik masing-masing skala bisnis di tingkat daerah.