Sebuah temuan menarik berhasil didokumentasikan oleh peneliti independen di kawasan hutan sekunder lereng Gunung Anjasmoro, Wonosalam, Jombang, Jawa Timur. Seekor ular kukri gunung jawa (Oligodon bitorquatus) berhasil diidentifikasi setelah sempat dikira sebagai jenis ular berbisa oleh tim peneliti dalam survei lapangan yang berlangsung pada awal April 2026.
Muhammad Asyraf Rijalullah, seorang lulusan Magister Biologi Universitas Brawijaya yang memimpin pengamatan tersebut, mengungkapkan bahwa perjumpaan ini tergolong istimewa. Ular yang ditemukan pada pukul 10 pagi ini menunjukkan perilaku di luar pola krepuskular—aktivitas di waktu fajar atau senja—yang selama ini tercatat dalam literatur ilmiah mengenai spesies tersebut.
Ular kukri memiliki keunikan anatomi pada bagian giginya yang menyerupai pisau kukri khas Nepal. Struktur gigi ini berfungsi khusus untuk merobek dan membuka telur, yang merupakan pakan utama mereka. Meski memiliki gigitan yang cukup tajam, ular ini diklasifikasikan sebagai satwa yang tidak berbisa dan memiliki status Risiko Rendah menurut IUCN.
Agus Nurrofik dari Sahabat Alam Indonesia menjelaskan bahwa habitat penemuan ular tersebut berada di zona penyangga antara hutan produksi dan hutan lindung yang dekat dengan kawasan Tahura Raden Soerjo. Kondisi vegetasi yang masih rapat dengan tegakan pohon pinus dan eukaliptus menjadi indikator bahwa kawasan tersebut masih menjadi rumah yang layak bagi berbagai jenis herpetofauna.
Kendati demikian, ancaman terhadap kelestarian satwa liar tetap nyata akibat ekspansi lahan pertanian dan perkebunan, seperti kopi dan jeruk. Dokumentasi ular ini diharapkan dapat menjadi data pendukung penting dalam upaya konservasi serta pengembangan ekowisata berbasis edukasi, guna mendorong kesadaran masyarakat lokal dalam menjaga keberlangsungan ekosistem di lereng Gunung Anjasmoro.